Rural School Global Thinking

Top reviews

Carut Marut Nasib Guru Honorer

Carut Marut Nasib Guru Honorer

"Mengajar dengan hati, bertahan dalam ketidakpastian."

Belakangan ini, media sosial kembali dipenuhi tagar, video, dan curahan hati para guru honorer. Ada yang menangis karena masa depannya belum jelas, ada yang bercerita telah mengabdi belasan bahkan puluhan tahun, tetapi hingga kini masih belum memperoleh kepastian status. Di balik viralnya berbagai unggahan itu, tersimpan kegelisahan yang nyata: ke mana arah nasib guru honorer setelah berbagai kebijakan baru diterapkan?

Ironisnya, selama ini guru honorer justru menjadi penyelamat pendidikan di banyak sekolah. Ketika jumlah guru ASN tidak mencukupi, merekalah yang datang paling pagi, pulang paling sore, mendampingi siswa belajar, mengisi administrasi sekolah, hingga menjadi tempat curhat peserta didik. Tugas mereka tidak berbeda dengan guru ASN, tetapi kesejahteraan dan kepastian masa depan sering kali sangat jauh berbeda.

Yang membuat masyarakat ikut tersentuh adalah kenyataan bahwa tidak sedikit guru honorer menerima penghasilan yang jauh dari kata layak. Ada yang harus mencari pekerjaan sampingan sebagai petani, pedagang, pengemudi ojek, hingga buruh harian demi memenuhi kebutuhan keluarga. Siang mengajar demi masa depan anak bangsa, sore hingga malam bekerja demi masa depan keluarganya sendiri.

Di tengah berbagai upaya pemerintah melakukan penataan tenaga non-ASN melalui mekanisme PPPK, muncul harapan sekaligus kekhawatiran. Harapan bagi mereka yang berhasil memperoleh formasi. Namun di sisi lain, masih ada ribuan guru yang bertanya-tanya, "Apakah pengabdian kami selama ini akan benar-benar dihargai, atau justru berakhir tanpa kepastian?"

Persoalan ini bukan semata-mata tentang status kepegawaian. Ini adalah persoalan keadilan. Sebab pendidikan yang berkualitas lahir dari guru yang dapat bekerja dengan tenang, bukan guru yang setiap hari dihantui kecemasan tentang apakah bulan depan masih bisa mengajar atau tidak.

Viral, tetapi Jangan Sekadar Viral

Ramainya pembahasan mengenai guru honorer di media sosial hendaknya tidak berhenti menjadi sekadar tren. Viral memang mampu membuka mata publik, tetapi perubahan hanya akan lahir melalui kebijakan yang benar-benar berpihak pada dunia pendidikan.

Masyarakat tentu berharap pemerintah pusat, pemerintah daerah, DPR, organisasi profesi, dan seluruh pemangku kepentingan dapat menemukan solusi yang tidak hanya sesuai aturan, tetapi juga menghargai pengabdian ribuan guru yang telah bertahun-tahun menjaga nyala pendidikan di negeri ini.

Sebuah Renungan

Bayangkan jika suatu hari seorang guru yang telah mengajar selama 15 atau 20 tahun harus meninggalkan ruang kelas bukan karena pensiun, bukan karena melanggar aturan, tetapi karena sistem belum mampu memberi ruang baginya. Murid-murid mungkin hanya kehilangan seorang guru. Namun bangsa ini bisa kehilangan sosok pendidik yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya demi mencerdaskan generasi penerus.

Menghormati guru tidak cukup dilakukan setiap Hari Guru Nasional. Penghormatan yang sesungguhnya adalah menghadirkan kepastian, kesejahteraan, dan perlindungan bagi mereka yang telah mengabdikan hidupnya untuk pendidikan.

Karena bangsa yang besar bukan hanya mampu membangun sekolah-sekolah megah, tetapi juga mampu memastikan para gurunya hidup dengan martabat dan masa depan yang layak.

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages

Categories

Popular Posts

Total Tayangan Halaman

Recent Posts